JAKARTA, KOMPAS.com – Ketua Majelis Pertimbangan Organisasi Pasukan Pengibar Bendera (Paskibra) DKI Jakarta, Yosse Yuliandra, mengaku mengenal situasi yang memungkinkan seorang Paskibra berada dalam kondisi tanpa busana selama Orientasi Kepaskibrakaan (OKA). Kalau sampai ada salah satu anggota calon Paskibra mengalami hal seperti itu, hal tersebut mungkin saja terjadi.

Tapi itu baru mungkin terjadi jika waktunya mepet.

Hal itu disampaikan Yosse terkait pengaduan orangtua salah satu anggota Paskibra di Provinsi DKI Jakarta berinisial S, yang memprotes perlakuan anggota Paskibra senior terhadap calon anggota Paskibra angkatan 2010. Orangtua S menyebutkan, selama OKA di Cibubur pada 2-6 Juli lalu, putrinya diperintahkan untuk berjalan dari barak kamar mandi ke barak tidur dalam kondisi tanpa busana.

Kepada Kompas.com, Yosse mengatakan bahwa situasi seperti itu dimungkinkan terjadi untuk menghindari molornya jadwal pelaksanaan OKA. Namun, Yosse meyakinkan kejadian itu, kalaupun ada, hanya terjadi di barak putri dan tak bisa dilihat dari luar barak. “Kami mengenal itu (anggota Paskibra mondar-mandir tanpa busana). Paskibra (putri dan putra) itu sesuatu yang terpisah. Masing-masing barak pun tertutup dan tak bisa dilihat orang luar,” kata Yosse saat ditemui di Lapangan IRTI Monas, Selasa (17/8/201) siang.

“Tapi itu baru mungkin terjadi jika waktunya mepet (dari satu jadwal ke jadwal berikutnya),” tegasnya. Sementara itu, Ketua Tim Investigasi Internal Purna Paskibraka Indonesia (PPI), Mohamad Mahdi, mengaku, pembinaan fisik anggota Paskibra selama OKA dilakukan secara semimiliter oleh anggota Paskibra senior angkatan 2006-2009 yang menjadi instruktur OKA. Hal itu dilakukan untuk menggembleng kedisiplinan para Paskibra yunior.

Setiap pagi 28 calon Paskibra Jakarta digembleng latihan fisik, antara lain dengan berlari dan melakukan push up. “Pembinaannya secara semimiliter. Tapi kami melakukannya berdasarkan pembinaan fisik yang kami ketahui, tidak seperti Paskibraka nasional yang digembleng oleh tentara,” aku Mahdi.

Hingga saat ini, Mahdi dan timnya masih menyelidiki kebenaran kasus tersebut. Mereka akan melaporkan hasilnya kepada Kepala Dinas Olahraga dan Pemuda Provinsi DKI Jakarta, Syaefulah, yang menunjuk mereka sebagai pelaksana OKA. Hingga berita ini diturunkan, Syaefulah belum bisa dihubungi.